Coco, Film Animasi Terbaru yang Penuh Dengan Drama & Mengharukan

0
53

Saat ini, kita telah mencapai sebuah titik sejarah dalam film-film produksi Pixar, dimana film terbaik mereka bukanlah film yang sesuai dengan aturan baku. Menggebrak dengan film Wall-E (2008) dan Up (2009).

Pixar memberikan suatu ide fantastis mengenai 5 emosi yang memiliki kepribadian dalam Inside Out pada tahun 2015. Sayangnya, setelah itu, beberapa film produksinya seakan tenggelam begitu saja, sebut saja The Good Dinosaur (2015), Finding Dory (2016), dan Cars 3 (2017).

Untungnya, meski secara keseluruhan studio ini berada dalam posisi yang tidak menentu, Pixar kembali bermain dengan elemen mereka dalam film terbarunya yang sangat menyentuh, Coco. Film garapan Lee Unkrich (Finding Nemo, Toy Story 3) ini merupakan sebuah film yang sarat dengan musik, hubungan kekeluargaan yang kental, dan warisan bakat yang menawan.

Semuanya terjalin indah dalam suatu perjalanan melewati Hari Kematian, atau ritual untuk menghormati orang mati yang umum dilakukan di Meksiko. Meski memiliki fase cerita yang sedikit lamban, namun jalinan kisah emosional dalam film ini berhasil menciptakan sebuah kisah yang kuat dan sanggup menggerakkan hati penontonnya.

Pada prolog singkatnya, Chillers akan diperkenalkan dengan sosok Miguel (Anthony Gonzalez). Dimana Chillers akan mengetahui bagaimana musik telah memporakporandakan kehidupan keluarga Miguel ketika kakek buyutnya meninggalkan istri dan putrinya untuk menjadi musisi yang terkenal.

Setelah ditinggalkan oleh kakek buyutnya, nenek buyut Miguel pun melarang keluarga mereka berhubungan dengan musik dan menjadi seorang pembuat sepatu yang sukses. Setelah bertahun-tahun berhasil hidup tanpa musik, keluarga tersebut mulai menghadapi cobaan saat Miguel memiliki hasrat yang sangat kuat untuk menjadi seorang musisi.

Berniat untuk menggapai impiannya, Miguel pun nekad ‘meminjam’ gitar dari idolanya yang telah meninggal dunia, Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt).

Tak disangka, hal tersebut malah membuat Miguel terdampar di Tanah Kematian. Agar dapat kembali, Miguel pun bekerja sama dengan Hector (Gael García Bernal), seorang musisi tak ternama yang hampir saja dilupakan oleh satu-satunya kerabat yang mengingatnya.

Secara sekilas, Chillers dapat melihat bahwa Coco mirip dengan film-film sukses Pixar lainnya. Beberapa poin terpenting dalam film ini adalah hubungan persahabatan antara Miguel dan Hector.

Tanah Kematian yang digambarkan dengan begitu megah dan penuh warna serta imajinatif, plus penekanan akan pentingnya cinta dan hubungan kekeluargaan.

Bukan itu saja, Pixar juga ingin Chillers menyadari satu hal yang terpenting, yaitu alasan mengapa cinta dan hubungan kekeluargaan merupakan suatu hal yang penting, di atas segalanya.

Memang, ada beberapa plot yang terasa mudah ditebak. Saat Miguel menyembunyikan ketertarikannya akan musik dari keluarganya, Chillers pasti menyadari bahwa nantinya pasti Miguel akan menolak keluarganya dan melarikan diri menuju impiannya.

Begitu pula saat Chillers melihat foto kakek buyut Miguel yang tersobek, pastinya nanti akan ada semacam plot twist di baliknya. Untungnya, semua tanda-tanda yang diberikan dalam film ini tidak mengurangi efek emosional yang diberikan pada klimaks filmnya.

Saat Miguel tiba di Tanah Kematian dan bertemu dengan nenek buyutnya, Mamá Imelda (Alanna Ubach), Miguel pun dapat dikirim kembali, tapi hanya jika Miguel melupakan segala sesuatu tentang musik.

Dalam adegan tersebut, kita seakan diingatkan kembali akan sebuah pertanyaan, kehidupan semacam apa yang ingin kita jalani apabila kita meninggalkan satu-satunya hal yang kita inginkan dalam hidup. Bukan itu saja, dalam adegan itu, alasan Miguel mencintai musik pun dipertanyakan.

Apakah Miguel hanya ingin terkenal dan sukses seperti Ernesto de la Cruz, atau adakah sesuatu yang lebih dalam lagi akan hubungannya dengan musik.

Secara garis besar, cara film ini menggambarkan dan menjalin adegan demi adegan terassa begitu bergejolak dan penuh irama, meski ceritanya sendiri terasa sedikit datar.

Memang, Coco tidak dipenuhi humor yang dapat membuat Chillers tergelak-gelak seperti film-film Pixar lainnya. Namun semua itu seakan dapat ditebus melalui desain gambar yang sangat imajinatif dan penuh warna, ditambah dengan lagu-lagu yang pas dengan setiap adegan di dalamnya. Dimana setiap lagu seakan dibuat dengan penuh penjiwaan.

Dan setiap penggambaran akan Tanah Kematian dibuat dengan penuh hormat akan jiwa-jiwa yang telah berada di dalamnya.

Coco dapat dengan mudahnya melampaui semua film terbaru Pixar dan mengingatkan Chillers kembali akan kemampuan Pixar di masa jayanya.

Meski tidak dipungkiri akan ada perdebatan mengenai cukup layak atau tidaknya Coco untuk masuk ke dalam deretan film-film terbaik Pixar, namun yang pasti film ini memiliki semua elemen untuk menjadi sebuah film animasi yang hebat.

Dimulai dari visualisasi yang menawan, karakter yang sangat lovable, hingga resolusinya yang mengharukan.

sumber : melali.news

Leave A Comment Here

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here